“Sofyan!”
nama itu terdengar sangat tak asing di kepalaku. Seperti halnya
orang-orang di seberang daratan yang meyakini jiwanya pernah hidup
menjalani kehidupan di masa sebelumnya. Keyakinan yang membuat mereka
merasa dejavu ketika
mendengar sebuah nama. Nama mereka yang di masa itu sedang mereka
gunakan untuk menulis sejarah baru. Perasaan itu pula yang aku rasakan
ketika kata itu terdengar. Sofyan adalah namaku.
Aku
menjalani kehidupan yang tidaklah sehebat Einsten yang tak pernah
menyerah memahami hukum alam untuk ditransformasi ke dalam hukum-hukum
yang dapat ia tulis dan bagikan ke era selanjutnya. Aku juga bukan orang
dengan kepandaian menemukan kata per kata dan menjadikannya kalimat
yang akan membuat mereka merasa lebih nyaman setelah membacanya.
Aku.
Sofyan. Hanya seorang mahasiswa yang mendekati tingkat akhir. Belum
menjadi mahasiswa tingkat akhir. Tapi aku memiliki satu rahasia. Itu
adalah aku bisa mati berkali-kali.
***
“Sofyan,
kamu ditunggu Tina di burjo belakang kampus!” Seseorang menepukku dari
belakang dan menunjukkan wajahnya. Dia adalah Amin. Teman dekatku ketika
di kampus. Dia juga yang menjadi tukang pos modern antara aku dan Tina.
“Tina?
Kau yakin dia menungguku disana?” Aku hampir saja menjatuhkan Hpku
ketika mendengar kabar soal Tina. Ya. Tina adalah gadis yang sudah lama
aku suka. Sejak hari pertama kuliah. Juga yang harus aku ceritakan
adalah hari ini akan jadi kematianku yang ke-98.
“Apa
aku pernah berbohong soal Tina? Sudah cepat sana atau Tina keburu
dibawa lari sama abang-abang lain, lho.” Amin mendorongku untuk pergi
segera menemui Tina. Dia tidak tahu saja. Sejak aku mendengar nama Tina
disebutkan olehnya, aku sudah tak lagi ada sampingnya. Aku sudah pergi
mencium pipi Tina.
Aku
segera berlari ke burjo belakang kampus. Tubuhku yang berlari meskipun
tak secepat kilat itu juga yang nantinya dalam beberapa jam ke depan
akan ditemukan lemas di meja ujung burjo itu. Itu karena aku bertemu
Tina untuk ke 98 kalinya.
“Tina. Kau sudah lama menunggu?” Aku sudah sampai di burjo belakang kampus. Sekarang duduk di hadapan Tina.
Tina
bagiku adalah salju pertama yang turun di musim dingin. Meskipun aku
belum pernah melihatnya, tapi jika apa yang digambarkan oleh orang-orang
itu benar tentang indahnya salju pertama yang turun, maka salju itu
adalah Tina bagiku.
Tina
bagiku adalah hujan. Hujan pertama setelah penantian lama di musim
kemarau. Hujan yang membuat tanah merasakan sejuk ketika terkena tiap
tetesannya. Hujan yang dengan setia menyampaikan doa seorang ibu untuk
anaknya.
Sekarang, di burjo ini, di hatiku, sedang turun salju sekaligus hujan pertama di musim kemarau.
“Nggak
juga. Mungkin sekitar 10 menit yang lalu.” Tina melihat kedatanganku.
Beberapa detik aku bisa menari dimatanya. Sebelum akhirnya abang burjo
datang menanyakan pesanan kita.
“Pesan
yang biasa nih, neng?” Abang burjo menanyai Tina lebih dulu. Syukurlah.
Karena jika dia menanyaiku lebih dulu, yang aku lakukan adalah
membunuhnya karena sudah mengganggu tarianku di mata Tina.
“Iya
bang. Biasa yang spesial ya.” Tina menjawab dan tersenyum ke arah abang
burjo itu. Aku didepannya bersiap menarik pelatuk pistol di tangan.
“Kalo
abangnya? Pesen apa?” Abang burjo kini menanyaiku. Aku menyembunyikan
pistol ditangan. Memasukkannya lagi ke dalam saku celana paling dalam.
Takut Tina tahu jika aku memiliki semua senjata yang bisa membunuh orang
dalam sekali tindakan.
“Yang biasa juga, Bang.” Aku menyebutkan pesanan tanpa tersenyum seperti yang dilakukan Tina.
“Kamu bawa buku puisi yang kemaren aku bilang mau pinjam itu kan?” Tina bertanya padaku.
“Ya.
Sebentar.” Aku mengambil buku puisi yang dimaksud Tina. Puisi adalah
satu-satunya hal yang membawa Tina ke burjo belakang kampus ini untuk
bertemu denganku. Aku? Tina dan semua tentangnya adalah yang menjadikan
puisi ini tak lagi lumpuh di rak bukuku.
“Ini
buku yang sebelumnya. Sekarang aku bawa buku yang ini ya.” Tina
bersemangat menerima buku yang kuberikan. Beruntungnya buku dan puisi
itu. Dia akan bermalam bersama Tina malam ini. dan aku sebentar lagi
akan mati. Lagi.
“Oh..buku
yang ini. Aku pikir buku ini hilang.” Aku juga bersemangat melihat buku
yang diberikan Tina. Bukan karena aku akan berbagi aroma tubuh Tina
yang tertinggal di dalam tiap lembarnya. Tapi karena memang aku sedang
mencarinya.
“Aku
selalu lupa mau bawa buku itu tiap kali ketemu aku. Maaf ya.” Tina
mendekatkan tubuhnya ke arah meja. Memperlihatkan wajah menyesal.
“Ya.
Aku juga yang lupa kok kalo ternyata ini dibawa kamu bulan lalu.” Aku
memasang baju anti peluru ketika Tina memperlihatkan wajah menyesalnya.
Dia selalu melakukan itu tiap kali lupa membawa bukuku. Itu membuatku
tak berdaya. Wajah menyesal itu adalah senapan bagiku. Aku tak ingin
mati sebelum Tina jatuh cinta padaku.
“Ini pesanan neng. Ini pesanan abang. Selamat makan. Jangan lupa berdoa ya.” Abang burjo datang lagi mengantarkan makanan kita.
Tina
segera menyantap makanannya. Aku mengikuti semua gerakannya. Setiap
suapan, kunyahan, juga tegukan es tehnya. Kita selesai makan bersamaan.
“Sofyan,
aku pulang duluan ya. Ada deadline laporan nih.” Tina segera berdiri
dari tempat duduk setelah menghabiskan makanannya. Aku juga segera
berdiri untuk membayar. Juga bersiap untuk mati.
“Ya.
Kalo udah selesai baca buku yang tadi. Bilang aja judul buku apa yang
mau kamu baca selanjutnya.” Aku mengantar Tina dengan tatapan ingin
menahannya. Tapi aku takut dia tahu rahasiaku. Bahwa aku akan mati
sebentar lagi.
“Abangnya
pingsan lagi.” Abang burjo itu menemukan tubuh lemasku setelah Tina
menghilang di tikungan jalan. Abang itu tidak tahu jika aku bukan
pingsan. Aku mati. Abang burjo itu menyebutku pingsan karena sepuluh
menit setelah ini aku akan hidup lagi. Ini adalah kematianku yang ke-98
juga kehidupanku yang ke-99.
***
Sebulan
setelah kematianku yang ke-98, Tina mengirimu pesan. Sebuah judul buku
selanjutnya yang ingin dia pinjam. Aku menyiapkan buku itu juga menyiapkan kematianku yang ke-99.
“Ini
bukunya.” Aku memberikan buku selanjutnya yang akan dibawa Tina. Buku
dan puisi selanjutnya yang akan bermalam bersama Tina.
“Wah...
Aku nggak nyangka lo kamu punya buku ini. Kemaren kata temen-temenku
buku ini susah nyarinya. Jarang orang punya.” Tina bersemangat menerima
buku yang kubawa. Dia bilang tak banyak orang yang memilikinya. Sama
seperti rahasiaku. Tak banyak yang memilikinya. Bisa mati berkali-kali.
“Ya.
Memang bukunya udah gak beredar lagi.” Aku menerima buku yang
sebelumnya dipinjam Nina. Malam ini aku akan tidur mencium aroma tubuh
Tina dari lembaran buku puisi ini. Besok pagi akan ada yang mengucapkan
“selamat pagi”. Besok pagi, suara Tina akan menyanyikan puisi terakhir
di buku ini.
Hari
ini tidak ada abang burjo seperti sebelumnya. Kita bertemu di parkir
depan kampus. Aku ditemani Amin. Tina ditemani Rani. Jalan di depan
kampus malam ini sudah sepi. Yang aku sebut parkir depan kampus tadi
adalah jalanan yang sudah sepi ini. Itulah sebabnya ada tambahan dua
orang di pertemuanku dengan Tina malam ini. Itu juga berarti kematianku
yang ke-99 nanti akan ada saksi.
“Kita langsung pulang ya, Sofyan.” Tina dan Rani berpamitan. Mereka pergi lebih dulu. Sebelum pulang, aku juga akan mati dulu.
Amin
menemukan tubuhku lemas setelah Tina dan Rani hilang dari bayangan.
Amin bingung. Tak sempat berteriak minta tolong. Dia bingung karena
sekarang melihat dengan mata kepalanya sendiri membuktikan pengakuanku
beberapa jam lalu.
Sepuluh menit Amin kebingungan. Aku kembali dari kematianku yang ke-99. Sekarang adalah kehidupanku yang ke-100.
***
Sudah
tiga bulan setelah kematianku yang ke-99. Aku belum bertemu dengan Tina
lagi. Padahal aku sudah menyiapkan buku puisi ke 100 yang akan aku
berikan padanya. Ya. Kali ini, akan tidak meminjamkannya. Aku ingin
memberikannya. Aku ingin buku puisi ini akan bermalam bersama Tina
selamanya. Itu karena pertemuanku selanjutnya dengan Tina akan menjadi
kematianku yang ke-100.
“Hei, Sofyan!” Amin memanggilku. Membangunkan dari lamunan menjemput kematian terakhirku.
“Ya?” Aku menengok ke arah Amin dengan wajah bingung.
“Hape kamu itu bunyi.” Amin menunjuk ke arah HP ku.
“Oh..Ya.” Aku mengambil HP ku. Melihat nama yang muncul. Tina. Kematianku segera datang.
“Halo..Sofyan?”
Suara Tina terdengar seperti hujan. Kali ini bukan hujan pertama
setelah penantian lama di musim kemarau. Tapi hujan terakhir menuju
musim kemarau. Akhir dari musim hujan itu. Suara Tina adalah akhir
kehidupan Sofyan.
“Ya.” Sofyan menjawab pelan. Biasanya dia tidak pernah dengan kematiannya. Tapi kali ini dia takut padanya.
“Aku sudah selesai baca buku yang ini. Aku bisa pinjam buku yang lain?” Tina menyebutkan judul buku yang ingin dia pinjam.
“Ya. Akan kubawakan nanti. Mau ketemuan dimana?” Aku tetap berusaha menjawabnya dengan tenang. Aku masih ketakutan.
“Di burjo belakang kampus aja. Gimana?” Tina mengusulkan tempat pertemuan. Bagiku itu adalah tempat menemui kematian.
“Bisa di tempat lain nggak?” Aku menolak usulan Tina. Aku ingin kematianku kali ini di tempat yang lebih nyaman.
“Oke. Kamu yang tentuin dimana.” Tina memintaku memberi usulan.
“Di masjid deket rumahmu. Gimana?” Aku menyebutkan tempat dimana aku ingin mati dengan nyaman.
“Oke. Kita ketemu disana sore ini. Kamu bisa?” Tina mengajukan waktu pertemuan.
“Oke. Sore ini kita ketemu di masjid deket rumahmu.” Aku menyetujui waktu pertemuan.
“Oke.
Sampai ketemu sore ini.” Tina memutuskan panggilan. Pertanda
kesepakatan. Tina sepakat kita akan bertemu sore ini disana. Aku sepakat
aku akan mati disana sore ini.
***
Aku
memakai pakaian terbaikku. Sepatu juga aku semir seminggu yang lalu.
Parfum baru. Semuanya aku persiapkan untuk hari ini. Aku masih ketakutan
tapi aku tetap melangkah. Berjalan menuju masjid dekat rumah Tina.
Berjalan menuju kematianku yang ke-100.
“Sofyan,
ini bukunya.” Tina memberikan buku puisi yang dia pinjam. Kali ini
lembaran buku itu lebih harum dari buku-buku yang dikembalikan Tina
sebelumnya. Puisi-puisi dibuku itu juga mulai bernyanyi ketika aku
memegangnya.
“Ini
bukunya. Nanti bukunya nggak udah dibalikin ya. Buat kamu.” Aku
memberikan buku yang ingin dia pinjam. Juga buku yang aku ingin Tina
simpan. Buku puisi yang aku tulis setiap kali kematianku datang.
“Oh ya? Ini buku yang pengen banget aku punya. Makasih ya.” Tina terlihat bahagia menerima buku itu.
“Kamu mau langsung pulang?” Aku bertanya pada Tina. Biasanya pertemuan kita berakhir setelah buku itu berpindah tangan.
“Ya.
Aku harus segera pulang. Tadi aku bilang ibu cuman pergi sebentar aja.”
Tina pamit pulang. Tapi kali ini aku merasa ada yang berbeda dengan
Tina. Matanya lebih indah dari biasanya. Aku bisa menari lebih lama
disana. Bahkan dia ikut menari bersamaku. Tubuhnya memang langsung
pulang. Tapi jiwa kita saling berpelukan. Puisi kita menyanyi bersama.
***
Aku masuk ke masjid setelah Tina pulang. Menyiapkan kematianku. Aku melihat ke arah langit-langit masjid. Berdoa.
“Tuhan.
Ijinkan kematianku datang 10 menit lagi. Aku ingin mengucap salam
perpisahan pada aroma tubuh Tina yang dibawa lembaran buku ini” Aku
menurunkan pandangan ke arah buku yang hari ini dikembalikan Tina.
Membukanya. Puisi pertama bernyanyi. Puisi kedua menari. Puisi ketiga
menyampaikan kabar. Ada surat yang terselip di halaman selanjutnya.
Sofyan. Sepertinya aku tak bisa menjadikan buku puisi ini sebagai alasan untuk bertemu denganmu. Aku jatuh cinta padamu.
Kalimat terakhir surat itu mengantarkan kematianku.
Kabar
baik hari ini terdengar lewat puisi di halaman selanjutnya. Tina jatuh
cinta padaku. Kabar buruk hari ini terdengar lewat pengeras suara di
masjid dekat rumahku. Namaku disebut dengan keterangan-keterangan
lainnya. Aku tak ingin menyebutnya. Kabar buruk lain juga terdengar
lewat puisi yang kuberikan pada Tina. Kabar kematianku.
***
Di rumah Tina sedang membaca puisi dariku.
Aku mencintaimu hidup dan mati
Pagi tadi aku hidup lagi
Dengan satu rindu menari bersama bayanganmu
Sore ini aku mati lagi
Mengabadikan cintaku untukmu
@@@
Baca juga cerita lainnya yuk, Boi...
0 Komentar