--Bagian Empat--
Perdebatan
tentang kebenaran prinsip itu layak dijadikan benang merah pertemuanku
dengan biduan itu. Juga tentang standar seseorang dikatakan layak untuk
menjadi jodoh kita. Benarkah ketertarikanku malam ini merupakan tanda
awal biduan itu adalah jodohku? Atau ini hanya sebuah ketertarikan lain
yang belum kuketahui penjelasannya?
Malam ini masih terus berlanjut. Obrolan dengan biduan itu. Juga dilema di pikiranku.
“Teteh kenapa kerja jadi biduan? Bantu suami nyari duit ya, Teh?” Kali ini aku mencoba untuk terlihat santai.
“Saya keliatan udah punya suami, ya?”
“Eh...saya salah nanya lagi kayaknya.” Sontak aku menunjukkan ekspresi muka menyesal. Mengapa aku bisa sebodoh ini ketika berurusan dengan wanita. Seolah tak tersisa wibawa yang sering disebutkan rekan-rekanku itu.
“Kamu ini. Aku bisa beneran cinta sama kamu kalo kamu bertingkah kayak barusan.” Dia tertawa lagi.
“Jangan, Teh. Jangan jatuh cinta sama saya”
“Kamu udah punya pacar ya?”
“Enggak Teh. Saya malah belum pernah pacaran. Masih polos, Teh” Aku mencoba untuk bergurau.
“Kamu beneran belum pernah pacaran?” Dia memasang ekspresi muka yang serius seperti ingin tahu kebenaran dari perkataanku.
“Iya. Tapi gak pake muka seserius itu juga, Teh” Aku agak bergerak mudur ketika menjawabnya.
“Oh Iya. Maaf ya.” Dia seperti menyadari yang aku maksud. Kembali duduk seperti semula.
“Pertanyaan tadi belum jawab, Teh. Kenapa jadi biduan?”
“Kenapa jadi biduan?”
“....” Aku mengangguk. Menunggu jawabannya.
“Kamu sering liat berita di TV? Soal alasan orang jadi PSK adalah desakan ekonomi?”
“Pernah, Teh.”
“Itu juga jawaban saya kalo orang pada nanya soal kenapa jadi biduan.”
“Maksudnya Teh?”
“Kamu yakin mau denger ceritanya? Ngebosenin lo.”
“Bosen kan menurut Teteh.”
“Hmmm...” Dia menghela napas. Dan mulai bercerita.
“Singkatnya saya anak sulung. Adek saya satu. Karena ada satu kejadian, saya harus berganti peran dari anak manja menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap adek saya. Udah. Ceritanya tamat.” Dia mengakhiri dengan senyum tipisnya.
Waktu terasa kembali berputar. Energiku habis. Tak mampu menghentikan waktu lagi. Tak mampu melakukan teleportasi lagi. Kami kembali. Ke dalam ruang penumpang yang penuh sesak. Suara orkes kapal itu terdengar. Lagi. Saat itu pula aku merasakan getaran yang berbeda dari senyum tipisnya.
“Bang?” Dia menepuk bahuku. Menyadarkanku.
“Katanya mau ngobrol. Ini lagunya udah abis. Abang diem aja dari tadi.”
Apa yang baru saja terjadi. Aku tak membicarakan apapun dengannya. Lalu percakapan panjang tadi hanya di pikiranku. Hanya di angan-anganku. Aku kira aku sudah memberanikan diri untuk berbicara dengannya. Tapi ternyata aku masih penakut. Masih tak berani memulai ceritaku. Tentang wanita.
“Kalo gitu saya pamit ya, Bang. Ini kapalnya juga udah mau nyampe di pelabuhan. Hati-hati, Bang. Semoga selamat sampai tujuan.” Dia beranjak dari duduknya. Berdiri dari hadapanku.
Sial...Jadi semua yang terjadi tadi hanyalah khayalanku. Obrolanku dengannya. Biduan itu. Wanita pemilik senyum itu. Jadi ini semua hanya fiktif. Hanya dalam pikiranku. Aku hanya melihat biduan itu berjalan menjauh. Aku pun menjauh dari khayalanku tentangnya. Meninggalkan senyumnya di lorong-lorong kapal. Biduan itu. Aku. Obrolan itu. Percayalah. Itu semua hanya fiktif dari liarnya pikiranku.
“Saya keliatan udah punya suami, ya?”
“Eh...saya salah nanya lagi kayaknya.” Sontak aku menunjukkan ekspresi muka menyesal. Mengapa aku bisa sebodoh ini ketika berurusan dengan wanita. Seolah tak tersisa wibawa yang sering disebutkan rekan-rekanku itu.
“Kamu ini. Aku bisa beneran cinta sama kamu kalo kamu bertingkah kayak barusan.” Dia tertawa lagi.
“Jangan, Teh. Jangan jatuh cinta sama saya”
“Kamu udah punya pacar ya?”
“Enggak Teh. Saya malah belum pernah pacaran. Masih polos, Teh” Aku mencoba untuk bergurau.
“Kamu beneran belum pernah pacaran?” Dia memasang ekspresi muka yang serius seperti ingin tahu kebenaran dari perkataanku.
“Iya. Tapi gak pake muka seserius itu juga, Teh” Aku agak bergerak mudur ketika menjawabnya.
“Oh Iya. Maaf ya.” Dia seperti menyadari yang aku maksud. Kembali duduk seperti semula.
“Pertanyaan tadi belum jawab, Teh. Kenapa jadi biduan?”
“Kenapa jadi biduan?”
“....” Aku mengangguk. Menunggu jawabannya.
“Kamu sering liat berita di TV? Soal alasan orang jadi PSK adalah desakan ekonomi?”
“Pernah, Teh.”
“Itu juga jawaban saya kalo orang pada nanya soal kenapa jadi biduan.”
“Maksudnya Teh?”
“Kamu yakin mau denger ceritanya? Ngebosenin lo.”
“Bosen kan menurut Teteh.”
“Hmmm...” Dia menghela napas. Dan mulai bercerita.
“Singkatnya saya anak sulung. Adek saya satu. Karena ada satu kejadian, saya harus berganti peran dari anak manja menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap adek saya. Udah. Ceritanya tamat.” Dia mengakhiri dengan senyum tipisnya.
Waktu terasa kembali berputar. Energiku habis. Tak mampu menghentikan waktu lagi. Tak mampu melakukan teleportasi lagi. Kami kembali. Ke dalam ruang penumpang yang penuh sesak. Suara orkes kapal itu terdengar. Lagi. Saat itu pula aku merasakan getaran yang berbeda dari senyum tipisnya.
“Bang?” Dia menepuk bahuku. Menyadarkanku.
“Katanya mau ngobrol. Ini lagunya udah abis. Abang diem aja dari tadi.”
Apa yang baru saja terjadi. Aku tak membicarakan apapun dengannya. Lalu percakapan panjang tadi hanya di pikiranku. Hanya di angan-anganku. Aku kira aku sudah memberanikan diri untuk berbicara dengannya. Tapi ternyata aku masih penakut. Masih tak berani memulai ceritaku. Tentang wanita.
“Kalo gitu saya pamit ya, Bang. Ini kapalnya juga udah mau nyampe di pelabuhan. Hati-hati, Bang. Semoga selamat sampai tujuan.” Dia beranjak dari duduknya. Berdiri dari hadapanku.
Sial...Jadi semua yang terjadi tadi hanyalah khayalanku. Obrolanku dengannya. Biduan itu. Wanita pemilik senyum itu. Jadi ini semua hanya fiktif. Hanya dalam pikiranku. Aku hanya melihat biduan itu berjalan menjauh. Aku pun menjauh dari khayalanku tentangnya. Meninggalkan senyumnya di lorong-lorong kapal. Biduan itu. Aku. Obrolan itu. Percayalah. Itu semua hanya fiktif dari liarnya pikiranku.
The End...

0 Komentar