BIDUAN ITU... (3)

 


 --Bagian Tiga--

Biduan itu kembali berjalan ke arahku. Aku mengarahkan pandanganku. Mencoba menarik perhatiannya agar ia menghampiriku.

Apakah kekuatan prinsip tentang jodoh itu memang tak bekerja untukku malam ini? Haruskah aku membenarkan apa yang terjadi padaku malam ini? Haruskah aku meng-iya-kan ketertarikanku padanya?

Kami beradu tatap. Dia menghampiriku. Tak hanya sepersekian detik. Tapi berpuluh-puluh detik. Mungkin menit. Kami beradu pandang sejak ia beralih dari penumpang sebelumnya. Sejak ketukan langkah pertamanya. Berjalan lurus menuju bagian belakang penumpang. Berjalan ke arahku.

Kami. Aku dan dia. Biduan itu. Sosok si empunya senyum tipis itu. Sempurna ada di hadapanku.

“Mau request lagu, Bang?” Profesionalitasnya layak diacungi jempol. Ia berhasil menghipnotisku dari beberapa menit yang lalu. Terus menatapku. Dan menanyakan tentang request lagu.

“Iya.” Bodohnya aku. Haruskah aku menjawab iya. Aku bukan ingin request lagu. Bukan itu tujuanku terus memperhatikannya dari nada pertama dimainkan oleh orkes kapal ini.

“Lagu apa?” Dia bertanya dengan senyum tipis itu. Andai dia tahu. Aku sudah teracuni oleh senyum itu. Apa ia akan terus memberikan senyum itu tiap kali berbicara denganku?

“Lima menit?” Aku asal mengucapkan kata yang muncul di kepala.

“Sepuluh ribu, bang.” Tangannya menjulur ke arahku. Masih dengan senyum tipisnya.

“Ya?” Aku kembali ke alam sadarku. Bertanya apa yang baru saja aku katakan. Mengapa ia menyodorkan tangannya padaku?

“Satu lagunya sepuluh ribu, bang. Abang jadi request kan?” Caranya menjelaskan sangat ramah. Seperti pegawai front office perusahaan besar yang tetap tersenyum meski pengunjung tidak memahami penjelasannya.

“O..request lagu. Iya teh. Ini teh.” Aku mengeluarkan lembaran dua puluh ribuan. Memberikan padanya.

“Satu lagu lagi judulnya apa, Bang?” Ia menerima uang itu sambil mengerutkan kening. Terlihat bingung. Tapi tetap tak melupakan senyumnya.

“Satu lagu aja teh.”

“Ini kembaliannya, Bang.”

“Gak usah, Teh. Ini saya ijin dulu sebelumnya, mau bilang maaf dulu, Teh. Kalo uang kembaliannya diganti Teteh ngobrol sama saya selama satu lagu diputer di depan, Boleh Teh?” Aku seperti kehilangan semua harga diriku ketika aku mengatakan itu. Mempertaruhkan semuanya. Jika facebook selalu bertanya apa yang anda pikirkan. Pada saat itu juga, seperti tape yang memutar kaset usang, aku terus bertanya apa yang baru saja aku lakukan?

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Lima detik berlalu setelah pertanyaan konyolku.

“Emang Abang mau ngobrolin apa? Asal bukan soal kebijakan presiden aja ya” Dia langsung duduk tepat di sebelahku. Tanpa permisi. Bodohnya aku. Tentu saja dia tak permisi. Bukankah aku yang memintanya untuk duduk secara tidak langsung.

Tepat setelah dia duduk tepat di hadapanku. Detik selanjutnya seakan tak bergerak. Seolah aku punya kekuatan super menghentikan waktu. Benar-benar berhenti. Mematung.

Tak hanya menghentikan waktu. Aku seolah punya kekuatan super teleportasi. Berpindah tempat dalam sepersekian detik. Aku dan dia. Biduan itu. Aku benar-benar mengajaknya pergi dari ruang penumpang di kapal itu.

Hanya ada aku dan dia. Membicarakan hal selain kebijakan presiden. Seperti permintaanya.

“Udah berapa lama jadi biduan, Teh?” Aku memulai pembicaraan saat itu.

“Hm...Sekitar 5 Tahun. Kalo Abang kerja apa?”

“Saya belum kerja, Teh. Masih kuliah.”

“Belum kerja. Gak jadi deh mau jadiin Abang suami saya.” Entah itu dibuat-buat atau nada ketulusan. Dia dengan santai mengatakan itu.

“Hah? Level becanda Teteh horor. Bisa bikin orang baper.” Jantungku makin berdegup tak teratur mendengar yang dikatakannya barusan.

“Gak bercanda itu, Bang. Eh..bentar. Tadi kan bilangnya masih kuliah ya. Berarti aku gak perlu panggil kamu Abang dong, ya?”

“Iya, boleh Teh. Terus kalo Teteh. Sekarang masuk umur berapa?”

“Topiknya sensitif nih. Ngomongin umur.”

“Iya kah? Kalo gitu ganti topik dah. Teteh orang mana?”

“Kamu lucu ya. Takut banget barusan pas dibilang topik sensitif. Kayak saya bakal marah gitu kalo kamu tanya soal umur. Saya masuk dua tujuh tahun ini. Logat saya kurang sunda apa ya. Kok kamu masih nanya saya orang mana. Apa kamu grogi ngomong sama saya.”

“Iya ya teh. Kayaknya saya beneran grogi ini ngobrol sama, Teteh” Aku memang tak bisa mengendalikan pikiranku. Energiku habis untuk mengendalikan waktu agar benar-benar berhenti saat aku berbicara dengannya.
Perdebatan tentang kebenaran prinsip itu layak dijadikan benang merah pertemuanku dengan biduan itu. Juga tentang standar seseorang dikatakan layak untuk menjadi jodoh kita. Benarkah ketertarikanku malam ini merupakan tanda awal biduan itu adalah jodohku? Atau ini hanya sebuah ketertarikan lain yang belum kuketahui penjelasannya?

Posting Komentar

0 Komentar