PUNGGUNG KANIA (1)

 

--tentang danar--



 Jam dinding yang menggantung di ruang tengah itu terus berdetik. Konsisten. Membantu orang-orang yang sangat mengagungkan waktu untuk melakukan banyak hal. Mereka menyebutnya produktif. Lalu mengibaratkan waktu adalah uang.

Hari ini jam dinding itu memberitahu lamanya aku berkutat dengan laporan ini. Enam jam berlalu. Sekarang sudah pukul dua dini hari. Udara malam mulai menyisipkan dingin ke dalam pori-pori kulitku. Aku beranjak untuk menutup jendela kamar. Kamar lantai dua ini sudah 1 tahun yang lalu menjadi tempatku menyelesaikan kenangan ataupun mencari alasan untuk memulai cerita baru.

Alasan. Logika. Rasionalitas. Sebab akibat. 24 tahun aku menjadi seseorang dengan nama Danar. Menempuh studi hingga S-2 membuatku lebih menggunakan logika untuk menjalani hidup. Hukum sebab akibat menjadi standar dalam setiap keputusan. Rasionalitas tak pernah ku tinggalkan dalam memahami sebuah kejadian.

***

“Semuanya selesai, Danar?” Tomi menyapaku di depan ruangan. Kami adalah rekan tim penelitian. Hari ini adalah meeting untuk penyelesaian laporan kami.

Jam tangan yang kupakai baru menunjukkan pukul 06.30. Sedangkan janji meeting kami pukul 08.00. Itu berarti aku masih punya waktu satu setengah jam sebelum meeting dimulai. Alasan aku datang lebih dulu adalah supaya tidak telat.

Aku tidak tidur semalaman untuk memenuhi deadline laporan hari ini. Jika meeting akan di lakukan pagi aku takut tak akan terbangun jika aku memilih untuk tidur semalam setelah selesai membuat laporan. Maka aku memilih untuk melakukan hal lain yang membuatku tidak tertidur. Termasuk memilih datang satu setengah jam lebih dulu ke ruangan meeting.

“Tentu saja. Bukankah hari ini deadlinenya?” Aku menjawab pertanyaan Tomi dengan ekspresi datar.

Tomi. Dia adalah orang yang bisa dianggap dekat denganku. Kami adalah teman satu angkatan. Secara kebetulan atau memang sudah menjadi rencana, proyek penelitian untuk tugas akhir ini pun kami menjadi rekan tim.

Terkadang aku akan menganggap apa yang dikatakan orang lain itu hal yang tak benar. Bisa dikatakan aku tak pernah menjadikannya serius. Beberapa orang yang sering berinteraksi dengan kami akan mengatakan jika kami sudah seperti paket buy one get one free. Jika kalian mengajak Tomi biasanya akan ada aku. Jika kalian mengajak aku maka bisa dipastikan Tomi berada disana.

Alasan klasik mengapa aku melakukan itu. Tomi adalah orang yang pandai beradaptasi dengan lingkungan baru. Suka basa-basi dengan orang. Sedangkan aku adalah kebalikannya. Jadi, kesimpulannya Tomi akan membantuku bersosialisasi dengan orang lain. berkenalan dengan mereka dengan cara yang lebih ramah.

“Lalu kenapa kau minta aku untuk datang sepagi ini?” Tampangnya terlihat terganggu karena kuminta datang pagi ini. Satu setengah jam sebelum meeting dimulai.

“Untuk apa lagi? Aku butuh asupan kafein atau aku tidak akan menyampaikan laporan dengan baik nanti.” Aku tersenyum tipis. Berusaha merayunya. Setidaknya Tomi sudah terbiasa dengan perilaku ini.

“Ya Tuhan... Apa tak ada orang lain yang bisa kau ajak ngopi bareng, Danar?” Tomi mengusap kepalanya. Mengepal tinjunya tapi tak dilayangkan kepadaku. Hanya untuk menunjukkan bahwa dia kesal. 

“Haruskah aku menjawabnya?”

“Haruskah aku mencarikannya untukmu?” Tomi menggodaku.

“Sudahlah. Yang pasti kau tidak pernah berhak menjawab tidak jika aku meminta untuk menemaniku minum kopi. Jadi sekarang kita pergi.” Aku tegas mengakhiri percapakan singkat pagi ini. Aku tak pernah menyukai percakapan jenis ini. Sialnya Tomi selalu mencari celah untuk memulai pembicaraan ini. 
 
 

Posting Komentar

0 Komentar