PUNGGUNG KANIA (2)

 


--Rasionalitas Danar--


Malam minggu. Remaja memenuhi kafe ini. Beberapa terlihat Berpegangan tangan. Beberapa lagi berpelukan. Diantara remaja tadi duduk pula dua orang yang sudah jauh dari sebutan remaja. Ya. Aku bersama Tomi ikut menikmati suasana kafe ini. Malam ini juga aku membawa kegundahanku diantara remaja tadi.

“Apa yang kamu lakukan ketika kau jatuh cinta pada seseorang tapi kau tak punya alasan lagi untuk menemuinya?” Aku bertanya pada Tomi.

“Cari alasan baru untuk menemuinya” Tomi menjawab dengan nada suara ringan. 

“Jika alasan baru tetap tak ada?” Aku kembali bertanya padanya.

“Berdoa untuknya” Tomi masih menjawab dengan ringan. “Kau sedang jatuh cinta, Danar?” Dia balik bertanya ke arahku dengan raut muka yang lebih serius.

“Entahlah..” Kali ini aku yang menjawabnya dengan nada ringan.

“Siapa Dia? Siapa gadis itu? Gadis yang akan mendapatkan cinta penuh logika dari seorang Danar?” Tomi bertanya penuh selidik.

“Entahlah...” Aku mengalihkan pandangan dari wajah Tomi. Mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ayolah Danar. Haruskah aku menebaknya?” Tomi tak menyerah dengan pertanyaannya. Dia terus bertanya padaku.

“Kau akan melakukannya?” Aku menjawab sekenanya.

“Bolehkah aku melakukannya?” Tomi seperti tahu jawaban yang akan keluar dari mulutku.

“Menurutmu?” Kali ini aku menjawabnya dengan raut muka yang serius.

“Baiklah. Aku tak akan melakukannya.” Tomi menyandarkan punggungnya ke kursi. Pertanda dia sudah tidak tertarik lagi jawabanku.

“Itu lebih baik.” Aku meminum espresso yang ada di hadapanku.

“Bolehkah aku memberi saran, Danar?” Tomi membenarkan posisi duduknya. Ini menunjukkan apa yang dikatakannya adalah hal serius.

“Jika menurutmu itu akan membantuku” Aku menjawabnya tanpa kesungguhan akan mendengarkan saran darinnya.

“Aku tak tahu ini aku membantumu atau tidak. Tapi aku tetap akan mengatakannya.”

“Terserah kau saja, Tom.”

“Kau masih ingat percakapan kita dua minggu yang lalu di kafe itu. Kau yang tak pernah memahami mengapa orang-orang berpacaran. Kau bahkan lebih setuju itu sebuah kesepakatan.”

“Lalu?”

“Kau benar, Danar. Itu memang sebuah kesepakatan. Tapi untuk memahami cinta, kau tak akan pernah berhasil memahaminya dengan logikamu, dengan rasionalitasmu”

“Kau tahu aku tak akan melakukannya.”

“Jika kau ingin menemukan alasan untuk menemuinya, cintamu. Kau harus melepaskan logikamu. Setidaknya menguranginya.”

“Apa aku bisa melakukannya. Apa aku bisa melakukannya?”

“Kau lebih tahu tentang itu, Danar.” 
 

 

Posting Komentar

0 Komentar