--Punggung Kania--
Aku seperti kehilangan kesadaranku. Hidup dengan menjadikan alasan sebagai kekuatan dalam bertindak tak lagi kutemukan. Aku tak hanya kehilangan kesadaranku. Aku kehilangan diriku.
Aku mematung di ujung persimpangan jalan komplek ini. 5 menit berlalu. 30 menit. Bahkan hari ini aku mematung selama 2 jam. Menatap ke arah pagar rumah berwarna biru itu. Menghitung tiap detik menuju pukul 07.00 pagi. Tepat ketika jarum pendek jam tangan menunjuk angka 7, sosok yang kutunggu muncul.
Aku sudah melakukannya sejak dua minggu yang lalu. Setelah malam yang panjang dipenuhi rasa ingin tahu dimana sosok itu tinggal. Jalanan ini bahkan sudah berhasil ku hapal tiap belokannya. Termasuk jalan yang bahkan orang-orang jarang melewatinya. Semua itu hanya karena dirinya. Aku selalu ingin melihatnya.
Kabar buruknya tak ada yang bergerak dari kondisi ini. Orang yang mengagungkan rasionalitas itu terjebak pada situasi tak rasional. Tak ada lagi alasan untuk melakukan tindakan lebih dari sekedar melihatnya keluar rumah setiap hari. Hanya sebatas itu. Dan itu ia definisikan sebagai cinta.
Danar. Rasionalitasnya tak mampu menjelaskan tentang cintanya. Tak mampu memberikannya alasan untuk menemuinya. Hanya mampu memberikan alasan padanya untuk melihat punggungnya. Punggung Kania. Cintanya.

0 Komentar