Aku sudah bersiap-siap sejak pagi untuk mengejar jam keberangkatan pesawatku. Hari ini aku harus pulang untuk memenuhi janjiku pada orangtuaku mengenai perjodohan ini. Aku tak bisa menolak perjodohan ini. bukan karena orangtuaku yang otoriter atau aku yang terlalu penurut. Tapi karena dalam pikiranku, hanya ini cara untuk meringankan beban orang tuaku.
Jika aku menikah, aku sudah tak menjadi tanggungan orang tuaku. Jika aku menikah, aku sudah meringankan kewajiban ayahku sebagai waliku. Jika aku menikah, ibuku akan lebih tenang menjalani masa tuanya.
Aku sudah siap dengan semuanya. Tapi hari itu, seperti daun yang tak tahu kapan ia akan gugur. Aku tak tahu jika ia datang. Sosoknya nyata berdiri di luar pagar rumah. Aku berulang kali mengedipkan mataku, mencubit tanganku sendiri hanya untuk memastikan aku sudah bangun dari mimpi. Ini bukan mimpi. Dia nyata ada didepanku. Andi datang di hari itu. Di hari aku akan pulang untuk perjodohanku.
“Khanza...”, suara itu. Entah berapa lama aku tak mendengar suara itu menyebut namaku.
“Andi?”, aku masih tak percaya dengan penglihatanku. Apa aku sudah harus memakai kaca mata untuk membantu penglihatanku. Benarkan Andi ada di depan mataku?
“Apa kabar?”, Andi menyapaku dengan suara lirih.
“Apa yang kau lakukan disini, Andi?” Pertanyaan Andi hanya kujawab dengan pertanyaan lagi.
Aku tak dapat mengendalikan pikiranku. Seketika kacau. Tak ingat janji untuk pulang. Tak ingat tentang perjodohan.
“Aku ingin menemui.”
Andi ingin menemuiku. Oh...apa aku sudah mengalami halusinasi. Delusi. Atau semacamnya. Apa aku membutuhkan konseling dengan psikolog. Kebaikan apa yang telah aku lakukan. Orang yang telah lama terselip dalam doaku. Kini muncul dan mengatakan ingin bertemu.
“Kau ingin menemuiku?” Lagi-lagi hanya pertanyaan yang aku berikan padanya.
“Ya. Aku ingin menemuimu. Apa kau ada waktu? Bisakah kita bicara?” pertanyaan itu. Sepersekian detik aku merasa takut. Terakhir kali ia mengatakan itu, ia menghilang tanpa kabar untuk waktu yang lama. Apa ia akan menghilang lagi sebelum jarum jam beranjak ke angka selanjutnya.
“Bukankah memang banyak yang harus kita bicarakan?” rasa takut itu tak lebih besar dari rasa ingin tahuku mengenai kepergiannya yang tanpa kabar. Membiarkan aku menerka. Entah berapa terkaan yang berhasil aku temukan dipikiranku. Mungkin jika ku tulis dalam sebuah buku akan memenuhi separuh isi buku itu.
“Ya. Kau benar. Ada banyak hal. Bisakah aku singgah di kontrakanmu?”
“Masuklah.” sekali lagi aku hanya mengiyakan perkatannya. Aku benar-benar melupakan janji dengan orang tuaku hari itu. Melupakan semuanya. Dipikiranku hanya ada pertanyaan mengenai kepergiannya dulu. Aku berbalik arah. Kembali masuk ke kontrakanku. Mempersilakan Andi duduk di kursi teras rumah.
“Sebelum kita memulai pembicaraan kita. bolehkah aku minta segelas air putih? Aku haus. Tadi selepas dari bandara aku langsung menuju ke kontrakanmu. Tak sempat minum.”
“Baiklah. Akan kuambilkan. Tunggulah sebentar.” Dia baru saja dari bandara dan tak sempat minum?. Apa maksud perkataannya. Oh...dia selalu bisa membuatku bertanya pada pikiranku sendiri.
Aku berjalan ke dapur. Mengambil air minum. Tiap langkahku menuju dapur membawaku pada tiap kemungkinan mengenai hubunganku dengan Andi. Akankah kita bisa seperti dulu lagi. Apakah dia membawa kabar baik. Apakah dia membawa berita mengenai pernikahannya. Kemungkinan terakhir ini membuatku takut.
***
“Kau membeli kura-kura lagi?” Andi berbalik setelah mendengar suara langkahku. Menerima air yang aku berikan.
“Ya. Aku tak ingin Rilla sendiri menjalani hidupnya di kolam itu. Setidaknya tidak merasa kesepian seperti tuannya.”
“Maafkan aku, Khanza.”
Aku tak melihat wajah Andi saat ia mengatakan itu. Aku melihat ke arah kolam didepan kontrakanku. Melihat dua kura-kura peliharaanku. Rilla. Nama salah satu kura-kura itu.
“Maaf untuk apa?” Kali ini aku melihat wajah Andi. Kami saling tatap. Diam beberapa menit. Kami menyelami pikiran masing-masing. Mencoba mencari tahu perasaan, pikiran kami saat itu.

0 Komentar